Hasil Penghitungan Cepat KAMMI Batam
HARIAN BATAM POS 21/04/09 (BP) - Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI ) Komisariat Batam, Syafrijal mengungkapkan hasil pengitungan cepat (quick count) yang mereka publikasikan beberapa waktu lalu, hanya 25 persen. Hasil sesungguhnya mereka simpan untuk menjaga, agar tidak menimbulkan kecurangan dan kericuhan.”Hasilnya yang 100 persen, biar kami saja yang tahu,”ujar Syafrijal yang juga koordinator penyelenggaraan quick count ini, akhir pekan lalu.
Namun hasil penghitungan cepat yang dipublikasikan itu, kata Syafrijal, sudah hampir-hampir mendekati hasil pengitungan sesungguhnya. Ia mengungkapkan alasan, kenapa mereka hanya mempublikasikan 25 persen dari hasil penghitungan cepat itu. ”Kami tidak ingin mendahului KPU. Kami juga khawatir nanti ada yang protes,” jelasnya.
Syafrijal menambahkan, yang lebih utama adalah mereka tidak mau hasil yang diekspos, membuat partai atau caleg berupaya untuk melakukan kecurangan. Yaitu menggelembungkan suara setelah mengetahui hasil perolehan suaranya rendah. (uma)
Media Batam pos....
Hanya Bermodal Rp3 Juta, Intimidasi Menghantui
Penghitungan cepat (quick qount) yang diselengarakanKesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Batam pada Pemilu Legislatif lalu merupakan gambaran perolehan suara partai di Batam. Hasil qiuck qount itu diklaim sangat-sangat mendekati hasil penghitungan akhir oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Lalu bagaimana kisah dibalik penyelenggaran quick count ini?Penghitungan cepat Pemilu Legislatif kali ini memang menjadi salah satu agenda KAMMI Komisariat Batam. Mereka sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Namun persiapan penghitungan cepat ini baru mereka mulai hanya satu bulan sebelum pencontrengan. Dua penggerak utama penyelenggaraan quick count ini adalah Syafrijal (21) Ketua KAMMI Komisariat Batam dan rekannya Taufik Budi Nugraha (21).
Dua mahasiswa jurusan Teknik Elektronika Politeknik Batam inilah yang banyak berperan. Sebagai mahasiswa keduanya patut diacungi jempol karena berani menyelenggarakan penghitungan cepat. Selain belum berpengalaman, hanya lembaga-lembaga survei yang didukung sumber daya manusia dan dana yang mumpuni yang bisa melakukannya.”Kami anak teknik. Skill teknologi setidaknya sudah ada. Sudah tau cara membuat program, aplikasi, komunikasi. Peralatan komputer dan ponsel ada. Konsultan ada, jadi tidak turun sendiri,” ungkap Syafrijal saat bincang-bincang di Masjid Raya Batam Centre, Kamis (16/4).Untuk penyelenggaraan, mereka bekerja sama dengan LPM Paradigma dan Komite Olah Raga Politeknik (KOP) serta MathPlus Komputindo, Batam. Konsultan dari MathPlus Komputindo ini tak lain adalah dosen mereka sendiri, Rahmat Sagara. Ia ahli statistik lulusan ITB. ”Kami bicarakan dengan MathPlus Komputindo. Konsultasi bagaimana cara penghitungan statistik. Setelah deal dengan Pak Rahmat, kami mulai bekerja,” ungkap Taufik.
Alat-alat pun mereka siapkan lalu mulai mencoba buat program. Setelah pemograman selesai, mereka kembali membahas langkah selanjutnya. Bagaimana membuat format quick count, bagaimana pengiriman data melalui pesan pendek, penghitungan random, dan penentuan TPS yang akan disurvei. ”Ternyata quick count itu simpel saja,” kata Syafrijal yang biasa disapa Ijal ini.Setelah masalah teknis siap, mereka mencari relawan yang mau memantau hasil pengitungan suara di TPS. Relawan yang mereka rekrut kebanyakan anggota KAMMI sendiri dan mahasiswa lainnya dari berbagai perguruan tinggi. Sekitar 447 relawan mereka rekrut. Namanya relawan, Ijal mengaku kawan-kawan mahasiswa itu tidak dibayar.Untuk persiapan penyelenggaraan quick count itu, Ijal dan Taufik harus banyak meluangkan banyak waktunya. Untung saja keduanya sudah memasuki semester terakhir sehingga punya banyak waktu luang. Selama persiapan itu, keduanya sering begadang. Bahkan dua hari menjelang pencontrengan mereka tidak banyak tidur.
Begitu pun saat penghitungan cepat dilakukan. Keduanya standby di kampus Politeknik menunggu data hasil penghitungan suara di TPS yang disurvei. Data yang dikirim relawan melalui sms mulai masuk pukul 15.00 WIB. ”Data itu otomatis masuk program sesuai nama partai. Jadi kami tinggal awasi saja,” beber Ijal.Hingga tengah malam data hasil perolehan suara dari TPS yang disurvei masuk. Pasalnya, penghitungan suara di TPS ada yang berlangsung sampai dini hari. Akibatnya relawan-relawan yang kebanyakan perempuan tidak sanggup. ”Banyak yang rontok, jadi terpaksa relawan yang laki-laki datangi lagi TPS yang disurvei,” katanya.Hingga pagi pukul 05.00 WIB, penghitungan cepat itu baru selesai. Namun hari itu juga, hasil penghitungan cepat sementara sudah dipublikasikan koran ini. Sejak itu, Ijal dan Taufik banyak ditelpon dan dicari-cari tim sukses partai maupun caleg. Tidak hanya untuk mengetahui hasil akhir quick count itu, tapi juga telepon bernada intimidasi. ”Saya tidak tahu dari mana dapat nomor ponsel saya. Sehari itu kayak orang terkenal,” ujar Ijal sembari tertawa.
Saking banyaknya yang menelpon dan mencari, Ijal dan Taufik terpaksa mengabaikan telepon seharian itu. Perasaan takut menghantui. Ijal sampai tidak bisa tidur dan sempat mengalami gangguan di perut. ”Takut karena dicari-cari. Sampai sekretariat kami dicari-cari,” imbuhnya.Lalu dari mana biaya untuk penyelenggaraan quick qount tersebut? Ijal mengungkapkan dananya dari kas KAMMI sebesar Rp3 juta. Mereka bisa menyelenggarakan quick count dengan modal kecil karena programnya dibuat sendiri. Jadi gratis. Tenaga konsultan pun gratis. ”Yang tiga juta itu pun, tidak sampai habis,” katanya. ***
Batam 11 april 2009
HARIAN BATAM POS(BP) - Tiga partai besar menjadi peraih suara terbanyak Pemilu 2009 versi penghitungan cepat (quick count) yang diselenggarakan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Batam yakni Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Golkar. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan hasil sementara yang dipublikasikan sehari sebelumnya.Di Batam atau DPRD Tingkat II, PKS berjaya dengan perolehan suara 12,53 persen. Disusul Demokrat dengan raihan suara 11,96 persen dan Golkar memperoleh suara sebanyak 0,61 persen.
Meski berjaya di Batam yang notabene paling banyak jumlah pemilihnya, namun di DPRD Tingkat I, PKS berada di bawah Partai Demokrat. Demokrat meraih suara sebanyak 14,89 persen. Sementara PKS yang berada di urutan kedua memperoleh suara sebanyak 13,98 persen. Menyusul di tempat ketiga, Golkar dengan raihan suara 11,85 persen. Untuk DPR RI, Demokrat mempertahankan keunggulannya.Di bawah Partai Demokrat adalah PKS yang meraih suara sebanyak 15,50 persen. Sementara di tempat ketiga, Golkar dengan raihan suara sebanyak 13,57 persen. Hasil ini berbeda dengan tabulasi nasional sementara KPU, dimana Golkar menempati urutan pertama.
Perubahan justru terjadi pada hasil akhir penghitungan suara untuk DPD RI. Aida Ismeth tetap unggul dengan raihan suara 22,64 persen. Aida unggul jauh dibanding calon yang berada di posisi kedua yakni Zulbahri dengan perolehan suara 12,35 persen.Pada posisi ketiga terjadi perubahan, Raden Hari Cahyono yang pada penghitungan sementara berada di posisi keempat menyodok naik. Ia meraih suara sebanyak 7,21 persen dan menggeser Hardi S Hood yang sebelumnya meraih suara ketiga terbanyak.Pada hasil akhir penghitungan cepat versi KAMMI ini, Hardi S Hood justru tidak masuk empat besar. Caleg yang berada di posisi keempat adalah Jasarmen Purba dengan raihan suara 6,96 persen.
Menurut koordinator penyelenggara quick count KAMMI, Syafrizal, hasil penghitungan cepat versi KAMMI ini sangat mendekati hasil penghitungan sesungguhnya yang akan dilakukan KPU.Sementara Ketua DPD PKS Kota Batam Ricky Indrakari mengatakan, ia menghargai hasil quick count versi KAMMI, walau sampling datanya, belum mencerminkan hasil sesungguhnya. ’’Sebagaimana real count PKS yang sedang proses data entry,” katanya tadi malam.Syafrizal mengatakan, survei penghitungan cepat ini menggunakan sampel pada 477 TPS dari 1.693 TPS yang ada di Kota Batam. Dengan menggunakan metode Isaac dan Michael dan menggunakan VB programe. Dengan metode ini, tingkat kesalahan (sample error) survei ini cukup rendah, yakni sekitar 1 sampai 2 persen.
Diintimidasi
Setelah mempublikasikan hasil sementara penghitungan cepat kemarin, KAMMI banyak mendapat telepon dari tim sukses partai dan caleg yang ingin mengetahui hasil akhir. Selain itu, mereka juga mendapat telepon yang bernada intimidasi. ’’Kami banyak mendapat tekanan,” ungkap Syafrizal.Namun hal itu tidak membuat KAMMI untuk berhenti. Rencananya pada Pilpres mendatang, mereka akan tetap menyelenggarakan quick count. ’’Tapi kami harapkan ada dukungan dan ada lembaga lainnya yang melakukan kegiatan serupa sehingga ada pembanding,” katanya.(uma


