Blog Archive

Media Batam pos....
Hanya Bermodal Rp3 Juta, Intimidasi Menghantui
Penghitungan cepat (quick qount) yang diselengarakanKesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Batam pada Pemilu Legislatif lalu merupakan gambaran perolehan suara partai di Batam. Hasil qiuck qount itu diklaim sangat-sangat mendekati hasil penghitungan akhir oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Lalu bagaimana kisah dibalik penyelenggaran quick count ini?Penghitungan cepat Pemilu Legislatif kali ini memang menjadi salah satu agenda KAMMI Komisariat Batam. Mereka sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Namun persiapan penghitungan cepat ini baru mereka mulai hanya satu bulan sebelum pencontrengan. Dua penggerak utama penyelenggaraan quick count ini adalah Syafrijal (21) Ketua KAMMI Komisariat Batam dan rekannya Taufik Budi Nugraha (21).

Dua mahasiswa jurusan Teknik Elektronika Politeknik Batam inilah yang banyak berperan. Sebagai mahasiswa keduanya patut diacungi jempol karena berani menyelenggarakan penghitungan cepat. Selain belum berpengalaman, hanya lembaga-lembaga survei yang didukung sumber daya manusia dan dana yang mumpuni yang bisa melakukannya.”Kami anak teknik. Skill teknologi setidaknya sudah ada. Sudah tau cara membuat program, aplikasi, komunikasi. Peralatan komputer dan ponsel ada. Konsultan ada, jadi tidak turun sendiri,” ungkap Syafrijal saat bincang-bincang di Masjid Raya Batam Centre, Kamis (16/4).Untuk penyelenggaraan, mereka bekerja sama dengan LPM Paradigma dan Komite Olah Raga Politeknik (KOP) serta MathPlus Komputindo, Batam. Konsultan dari MathPlus Komputindo ini tak lain adalah dosen mereka sendiri, Rahmat Sagara. Ia ahli statistik lulusan ITB. ”Kami bicarakan dengan MathPlus Komputindo. Konsultasi bagaimana cara penghitungan statistik. Setelah deal dengan Pak Rahmat, kami mulai bekerja,” ungkap Taufik.

Alat-alat pun mereka siapkan lalu mulai mencoba buat program. Setelah pemograman selesai, mereka kembali membahas langkah selanjutnya. Bagaimana membuat format quick count, bagaimana pengiriman data melalui pesan pendek, penghitungan random, dan penentuan TPS yang akan disurvei. ”Ternyata quick count itu simpel saja,” kata Syafrijal yang biasa disapa Ijal ini.Setelah masalah teknis siap, mereka mencari relawan yang mau memantau hasil pengitungan suara di TPS. Relawan yang mereka rekrut kebanyakan anggota KAMMI sendiri dan mahasiswa lainnya dari berbagai perguruan tinggi. Sekitar 447 relawan mereka rekrut. Namanya relawan, Ijal mengaku kawan-kawan mahasiswa itu tidak dibayar.Untuk persiapan penyelenggaraan quick count itu, Ijal dan Taufik harus banyak meluangkan banyak waktunya. Untung saja keduanya sudah memasuki semester terakhir sehingga punya banyak waktu luang. Selama persiapan itu, keduanya sering begadang. Bahkan dua hari menjelang pencontrengan mereka tidak banyak tidur.

Begitu pun saat penghitungan cepat dilakukan. Keduanya standby di kampus Politeknik menunggu data hasil penghitungan suara di TPS yang disurvei. Data yang dikirim relawan melalui sms mulai masuk pukul 15.00 WIB. ”Data itu otomatis masuk program sesuai nama partai. Jadi kami tinggal awasi saja,” beber Ijal.Hingga tengah malam data hasil perolehan suara dari TPS yang disurvei masuk. Pasalnya, penghitungan suara di TPS ada yang berlangsung sampai dini hari. Akibatnya relawan-relawan yang kebanyakan perempuan tidak sanggup. ”Banyak yang rontok, jadi terpaksa relawan yang laki-laki datangi lagi TPS yang disurvei,” katanya.Hingga pagi pukul 05.00 WIB, penghitungan cepat itu baru selesai. Namun hari itu juga, hasil penghitungan cepat sementara sudah dipublikasikan koran ini. Sejak itu, Ijal dan Taufik banyak ditelpon dan dicari-cari tim sukses partai maupun caleg. Tidak hanya untuk mengetahui hasil akhir quick count itu, tapi juga telepon bernada intimidasi. ”Saya tidak tahu dari mana dapat nomor ponsel saya. Sehari itu kayak orang terkenal,” ujar Ijal sembari tertawa.

Saking banyaknya yang menelpon dan mencari, Ijal dan Taufik terpaksa mengabaikan telepon seharian itu. Perasaan takut menghantui. Ijal sampai tidak bisa tidur dan sempat mengalami gangguan di perut. ”Takut karena dicari-cari. Sampai sekretariat kami dicari-cari,” imbuhnya.Lalu dari mana biaya untuk penyelenggaraan quick qount tersebut? Ijal mengungkapkan dananya dari kas KAMMI sebesar Rp3 juta. Mereka bisa menyelenggarakan quick count dengan modal kecil karena programnya dibuat sendiri. Jadi gratis. Tenaga konsultan pun gratis. ”Yang tiga juta itu pun, tidak sampai habis,” katanya. ***

Category : | edit post

0 Response to "Di Balik Penyelenggaraan Quick Count oleh KAMMI Batam"

Poskan Komentar

Harus Pintar pilih Pemimpin Yang Benar

Harus Pintar pilih  Pemimpin Yang Benar

Batam Digital Island

Capai 2000 Blogger di Batam Digital Island - Bersama menjadikan Batam Digital Island.

Batam Digital Island

Visit www.batamdigitalisland.com - Bersama menjadikan Batam Digital Island.

Sekilas iklan

Sekilas iklan

Visit Batam 2010